Logo Pondok Pesantren Fajrussalam
Artikel
26/Oct/2024

Menjaga Niat Dalam Menuntut Ilmu

Dari : Ust. Asep Sunandar

Niat merupakan hal paling urgen dan mendasar dalam setiap ibadah, tidak sah suatu ibadah tanpa diiringi dengan niat. Hal ini berdasarkan hadist masyhur yang diterima dari sayyidina Umar r.a. dan diriwatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim di mana Nabi S.A.W bersabda "Sesungguhnya segala perbuatan harus disertai dengan niat". Tak terkecuali menuntut ilmu, yang mana hal itu adalah ibadah yang paling agung dan mulia. Bagaimana tidak agung dan mulia, Seseorang tidak akan mengenal ibadah sholat, haji, sedekah bahkan jihad jika tanpa mencari ilmunya. Maka dari itu, agama ini mewajibkan kepada setiap pemeluknya agar menuntut ilmu "Mencari Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim" begitu sabda Nabi S.A.W.

Ada pun tentang niat mencari ilmu, para ulama sudah membahas dalam kitab-kitab mereka tentang pentingnya mensucikan niat dalam menuntut ilmu. Diantara mereka adalah Imam ajarnuzi pengarang kitab talim mut'alim. Di dalam kitabnya beliu menjelaskan bahwa hendaknya penuntut Ilmu mempersembahkan niatnya ketika mencari ilmu untuk lima perkara:

1. Mengharapkan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala

2. Menggapai kebahagiaan akhirat

3. Mengangkat kebodohan bagi dirinya dan kebodohan orang-orang disekitarnya

4. Menghidupkan agama, untuk menjaga kekelan agama.

5. Mensyukuri nikmat akal dan sehat badan.

Dilihat dari lima poin di atas, Syekh Ajarnuzi seolah ingin menegaskan kepada para penuntut ilmu agar jangan sampai ketika mencari ilmu niat-niat mereka terkotori oleh hal-hal duniawi yang rendah, jangan sampai ibadah yang suci ini disertakan didalamnya niat yang hina dan kotor.

ANCAMAN MENCARI ILMU UNTUK HAL DUNIAWI

Niat itu mudah, seseorang bisa saja berniat mengucapkan dalam hatinya "saya berniat mencari ilmu hanya karena Allah ta'ala" tapi menjaga agar niat itu tetap konsisten di atas ridho Allah itu yang sulit. Maka berangkat dari hal ini penulis memberi judul tulisan ini dengan judul "Menjaga niat dalam menuntut ilmu". Karena betapa banyak penuntut ilmu di awal langkah niatnya baik tapi di perjalanan dia tergelincir, oleh godaan-godaan dunia. Maka sudah dari jauh-jauh Hujatul Islam Imam Al-Ghazali memperingatkan dalam kitabnya Bidayatul hidayah bahwa siapa yang mencari ilmu untuk Munafasah (persaingan dalam keunggulan ilmu), membanggakan diri, menunjukkan keunggulan dirinya atas teman-temannya, mencari perhatian dan pujian manusia padamu, mengumpulkan harta dunia, maka kamu sedang melakukan tindakan untuk menghancurkan agamamu, dan menghancurkan dirimu sendiri bahkan menjual akhiratmu dengan duniamu dan transaksimu dalam jual beli itu pasti rugi, dan perdaganganmu akan hancur.

ANTARA NIAT DAN TUJUAN

Di akhir tulisan ini penulis ingin menerangkan perbedaan antara niat dan tujuan, karena banyak kekeliruan didapati tentang hal ini. Ketika melihat seorang ulama yang kaya raya mereka langsung berburuk sangka bahwa ulama itu hanya mencari harta, ketika ada seseorang ulama terkenal mereka beeburuk sangka bahwa dia hanya ingin dipuji dan dikenal manusia. Pertama harus dipahami bahwa perkara niat itu adalah perkata hati yang tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah, sedangkan tugas kita sebagai manusia adalah berbaik sangka pada manusia lainnya. Yang kedua bedakan antara niat dan tujuan. Niat itu ibarat akar yang menghujam ke tanah dan tak terlihat oleh mata, yang tidak boleh disertakan di dalamnya niat-niat lain selain lillah kerana Allah dan rido Allah. Ada pun tujuan ibarat dahan-dahan dan ranting mereka bercabang dan banyak rupanya. Tapi walaupun demikian dahan dan ranting itu tetap berasl dari akar yang satu. Dalam artian, ketika menuntut ilmu seseorang itu boleh saja memiliki tujun-tujuan duniawi tapi tetap diiringi dengan niat yang suci karena Allah. Betapa mulia jika seseorang ingin kaya tapi kekayaanya untuk menjaga agama Allah dan membantu sesama. Betapa mulia seseorang ingin terkenal tapi keterkenalanya dia pergunakan untuk menyebarkan ilmu agama dan. Inilah interpretasi dari hadist Nabi yang di bawakan Syekh Burhanudiin dalam kitab ta'alim muta'alim.

كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا و يصير بحسن النيه من أعمال الاخره , وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الاخره , ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النيه

"Berapa banyak perbuatan yang memliki tampilan amalan dunia, tapi menjadi amalan akhirat karena niat yang baik. Dan berapa banyak perbuatan yang memiliki tampilan amalan akhirat tapi malah menjadi amalan dunia karena buruknya niat."

Kesimpulannya adalah sertakan Allah dalam segala perbuatan kita, agar perbuatan kita tidak hanya menjadi lelah tapi lillah yang akan berbuah indah pada suatu saat nanti di janah Nya.

Ahad, 15 Mei 2022