Pelajaran Adab Dari Kisah Nabi Musa Dan Khidir
Oleh : Ust. H. Mukhlis Setiawan, S.S.I ( Kabid Pendidikan dan Pengajaran )
Pesantren merupakan salahsatu ciri khas pendidikan islam di Indonesia. Di dunia pesantren, kata atau istilah santri sudah tidak asing lagi, karena istilah pesantren sendiri memiliki akar kata santri, yaitu pe santri an. Bahkan sekarang istilah santri sudah menjadi istilah nasional, terutama setelah tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari santri nasional. Hal ini sebagai bentuk apresiasi negara terhadap peran santri untuk kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa santri selalu ada di garis terdepan dalam kemerdekaan negara ini.
Ketika mendengar kata santri yang terlintas dalam pikiran tentunya adalah seseorang yang memakai sarung, peci, tinggal di pesantren untuk beribadah dan belajar ilmu agama. Persepsi tersebut tidak salah juga, karena kata santri sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua arti. Pertama, yaitu orang yang mendalami agama Islam. Kedua, yaitu orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.
Sesuai dengan artinya maka santri memiliki tugas sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah ayat 121, yaitu belajar memperdalam ilmu agama (ليتفقّوا في الدين) dan mengajar umat (لينذروا قومهم). Ini korelasi yang sangat tepat. Karena seyogyanya untuk mengajar umat maka santri harus membekali diri dengan ilmu agama. Hal ini selaras juga dengan pesan Umar bin Khattab sebagaimana termaktub dalam kitab shohih Bukhori "باب الاغتباط في العلم والحكمة", bahwa sebelum menjadi tokoh agama, mengajar umat, maka seorang santri harus memperdalam dulu ilmu agama (تفقّوا قبل ان تُسَوَّدُوا).
Tentunya dalam mempelajari ilmu agama membutuhkan waktu yang lama, karena Ilmu itu sendiri seperti lautan yang dalam dan tak bertepi. Maka pantas jika Rosulullah memerintahkan mencari ilmu dari buaian hingga liang lahat (من المهد الى اللحد). Atau kata imam Syafi'i ketika menyebutkan satu diantara enam syarat mendapatkan ilmu, yaitu "waktu yang panjang" (طول زمان).
Selain fokus menyelami lautan ilmu, seorang santri pun harus senantiasa menghiasi diri dengan adab (akhlak), karena hiasan seorang santri adalah ilmu dan adab. Dan keberkahan ilmu terletak dalam adab. Itu sebabnya orantua salafussolih senantiasa menyampaikan pesan dan nasehat kepada anaknya untuk belajar adab ketika akan dilepas mencari ilmu. Diantara kalimatnya yang terkenal sebagaimana termaktub dalam kitab تربية الاولاد في الاسلام juz 1 hal 414, karangan imam Abdullah Nasih Ulwan, yaitu :
يابنيّ، لان تتعلم باباً من الادب اَحَبُّ اليَّ من ان تتعلم سبعين باباً من ابواب العلم
"Anakku, engkau belajar satu bab adab lebih aku sukai daripada belajar tujuh puluh bab ilmu".
Dan imam Mukhollid bin Husain berkata kepada imam Ibnu Mubarok:
نحن الى كثير من الادب اَحْوَجُ الى كثير من الاحاديث
"Kami lebih membutuhkan kepada banyak adab daripada banyak hadits"
Fajrussalam, 10 Dzulqo'dah 1441 H/2 Juli 2020 M.
*Sumber gambar : NU Online